* Teguran-Mu Teramat Manis

Ku tumpahkan rasa cemas yang aku alami pagi ini dalam sebuah melodi rajanya bait

Tuhan terlalu manis menegur kesalahanku

Rupanya aku benar ditunjukkan bagaimana perihnya mereka

yang kehilangan anugerah penglihatannya untuk sebuah kesempurnaan

 

Sungguh, Dosa apa lagi yang tlah aku perbuat

Nikmat Tuhan mana lagi yang tlah aku abaikan

Betapa aku merugi tadi pagi, menjadi seperti seonggok kayu tua yang mulai merapuh

 

Terperanjak aku dari kegelapan, menghentak kasar detak jantung yang semula bisu

Entah apa yang membuatnya semakin liar

Rasanya seperti dentuman keras, semua kabur tak beraturan

 

Benar benar gelap gulita, aku sempoyongan tak terpikir arah yang jelas

Tak kupandang apa yang didepan, tak kuhirau apa yang dibelakang

Aku hanya terdiam, menunduk diambang jalan diarusi rasa ketakutan

 

Malang, aku teringat sedang diperasingan rupanya

Bukan dimana aku sejatinya berada

Dengan siapa aku berdampingan, dengan siapa aku bersentuhan

 

Sekejap tumpah ruah apa yang ada di pikiranku

Semuanya berontak didesak kecemasan

Hanya sendiri , aku menyepi menggantung kekhawatiran

 

Tak dapat kupandang jsempurna apa yang dihadapan

Sungguh irama kesedihan mengantarku ke persinggahan dimana aku mengadu

Hanya Asma-Mu saja yang aku lantunkan sepanjang jalan

 

Tak jelas, semuanya pudar, nampak begitu kusam

Gelap, tak ada cahaya memancar, noda noda kecil saja yang berserakan

Kanan yang terasa biasa, bagaimana kabarnya si malang Kiri ?

 

Pucat, tak kunjung dapat melihat jelas,seperti terasa sudah tiada

Meskipun jari jemari memanjakannya, tetap saja tidak bisa

Kenapa ini, baru aku alami seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga

 

Aku pasrah bagaimana nantinya

Kucoba mengusap dengan sang bening keabadian saja

Bergumam aku pelan dalam hati seraya terus memohon ampun pada-Mu

 

Tapi Engkau masih iba terhadapku rupanya

Kasih-Mu masih bisa menyelimuti kekhawatiranku

HIngga benar aku dapat merasakan kesempurnaannya lagi, Syukron

 

Sejenak aku benar benar terdiam, terpana pada satun titik saja

Terengah dengan apa yang baru saja kualami

Benar benar mengerikan, sungguh aku takut

Mencoba merenung sesaat

Begitu Indah karunia-Mu, namun aku tak cukup sempurna memanfaatkanya

Lantas, Inikah kekecewaan-Mu atas apa yang tlah aku lihat selama ini ?

 

Hingga Kau benar benar menunjukan padaku

Betapa hinanya mata ini jika aku tak mensyukurinya

Astagfirullahaladzim !!

 

24 Mei 2012

Dülferstrasse, München

 

%d blogger menyukai ini: