* Schulen Partner der Zukunft

Unsere Erfahrungen In Deutschland
( Pengalaman Kami di Negara Jerman )

Hallo alle, wie geht es euch ? wir sind Fuad und Imam aus SMAN 3 Tasikmalaya
Hallo semua, apa kabar kalian ? kami Fuad dan Imam dari SMAN 3 Tasikmalaya. Pada kesempatan ini, kami ingin berbagi Informasi mengenai salah satu prestasi Sekolah kami tercinta.

Pemerintah Federal Jerman bekerja sama dengan SMA Negeri 3 Tasikmalaya melalui program PASCH ( Partner Schulen der Zukunft ) . Sekolah Mitra Menuju Masa Depan yang digagas oleh pemerintah Jerman kepada lebih dari 1000 Sekolah di Dunia. Program PASCH ini bertujuan untuk saling berkontribusi memperdalam Ilmu ; Bahasa dan Budaya Jerman sesungguhnya.

Tiap sekolah memiliki guru bahasa jerman yang nantinya akan mengajar dan mendidik para siswa yang tergabung ke dalam program PASCH. Saat ini SMA Negeri 3 Tasikmalaya memiliki 3 Ahli Tenaga Didik. Kami mengikuti rutinitas pembelajaran Bahasa Jerman setiap 2 kali seminggu , selain itu kita bisa ikut serta dalam berbagai kegiatan atau lomba yang diadakan oleh Pusat Kebudayaan Jerman untuk Indonesia, baik di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Terlebih dari itu, kami diberi kesempatan dan Stipendum beasiswa dari pemerintah Jerman kepada Siswa PASCH di tiap masing masing Sekolah Mitra untuk memperoleh pengalaman baru mengunjungi Negara Jerman sendiri. Mereka diberi kesempatan untuk bisa mengikuti Kursus Bahasa, memperdalam pengetahuan akan Budaya Jerman , baik itu saat Musim Dingin atau Musim Panas.

Dalam hal ini, SMA Negeri 3 Tasikmalaya sudah mencetak selebihnya beberapa lulusan siswa PASCH yang diberikan Beasiswa. Hal ini pastinya mereka yang mendapatkan kesempatan , benar benar memiliki kemampuan dan mahir dalam Berbahsa Jerman khususnya, serta aktif dalam berbagai kegiatan dan sudah dialukan tes sedemikian rupa sehingga layak memperoleh kesempatan emas ini. Mereka mengecam kursus bahasa selama 3 Minggu dan ada juga Camping bahasa selama 1 Minggu. Ada diantaranya Widia Oktapiani, R. Ilham Karyawiguna, Pipih Mahmudah, tahun 2009 mengikuti kursus remaja dan bahasa Musim Panas di Kota Rossleben-Jerman. Sri dan Nina tahun 2010 Januari sebagai peserta Kursus Musim Dingin di Berlin-Jerman, Juni 2010 ada Adi Muslimawadi , Adriani Eka, und Cindi Sucia peserta Kursus Musim Panas di Negara Bagian Rheinland Pfalz-Jerman.Pastinya kami berdua Imam dan Fuad sebagai peserta Kursus Musim Dingin Januari 2010 di kota Freiburg-Jerman.

Selain Kursus bahasa ada juga Beasiswa semacam Sprachcamp atau Kamping bahasa selama 1 Minggu , namun tidak di Negara Jerman melainkan di negara yang ditunjuk pemerintah Jerman sebagai tuan rumah, ada Nopi Sri Hartati tahun 2009  mengikuti Sprachcamp di Thailand dan Dimas Aditya Suryadi peserta Sprachcamp Thailand 2011, dan sampai saat ini Yusi Afiah peserta Sprachcamp Jepang 2012.

Sekilas Cerita mengenai pengalaman kami saat mengikuti Kursus Bahasa dan Remaja Musim Dingin Januari 2010 di kota Freiburg.

Tepatnya tanggal 9 Januari 2010 kami mendarat di bandara Frankfurt am Main dengan pesawat Lufthansa tujuan Jakarta-Jerman. Nampaknya hujan Salju saat itu sedang turun, dan kami memang dibuat tercengang olehnya, terlebih mereka yang pertama kali merasakan bagaimana dinginnya, rasanya, rupanya salju itu seperti apa. Sebelum menaiki bis yang sudah menjemput kami tujuan Freiburg kami diberi kesempatan untuk mencicipi Saljunya Eropa. Sesegera kami keluarkan Kamera dengan resolusi kecil yang penting ada kenangan kecil, padahal kami tahu nanti juga ketemu lagi, karena merasa bahagia dan setengah tidak sadar dibuatnya. hehe,,,Subhanallah Walhamdulillah

Saat itu kami masih Peserta dari Indonesia saja, berasal dari sekolah PASCH yang berbeda, ada dari Jakarta, Bandung, Malang, Mataram, Papua, Yogyakarta, dan Tasikmalaya. Tentunnya pembimbing setia kami, Ibu Oli dari Ambon. Orangnya baik dan ramah. Selama Kursus Musim Dingin, Kami tinggal di Jugendherberge Freiburg semacam penginapan para remaja dengan peserta lain dari 7 Negara dan pembimbingnya masing masing. Brasil, Paraguay, Argentina, Uruguay, Bolivia, Rusia, Neuseeland. Jumlah seluruh peserta Kursus saat itu mencapai 63 Remaja, dan Indonesia menjadi peserta terbanyak dengan 23 Siswa.

Penginapan kami memiliki kamar yang diisi dengan peserta peserta lain. Rata rata tiap kamar 4 peserta kursus. Saya kebetulan sekamar dengan Nandana Indonesia, Jose Paraguay, Alfredo Uruguay. Jugendherberge cukup besar rupanya untuk menampung tamu dengan kapasitas lebih dari 100 orang. Lantai bawah diisi dengan area permainan dan tempat santai serta aktifitas olahraga, kemudian lantai dasarnya terdapat pintu masuk, resepsionis, dapur dan tempat makan serta ruang berkumpul, selebihnya lantai atas ialah kamar dan ruangan khusus lainnya. Penginapan kami juga memiliki aturan khusus, dilarang membawa senjata tajam, alkohol, dan obat obat terlarang.

Ada 5 pembimbing selama 3 minggu  yang menemani kami mengikuti aktifitas aktifitas seharian. Ron, Tilman, Marina, Miryam, dan Toni. Mereka berasal dari Jerman dan Negara tetangga yang kebetulan ditunjuk untuk mengarahkan kami selama kursus disana. Selain itu ada 1 orang semacam Kepala Sekolah dan 1 Bendaharawan. Mereka baik, ramah, siap membantu dan senang bekerja sama.

Kami harus bangun setiap pagi paling lambat pukul 07:30 setelah itu sarapan yang sudah disediakan dengan antrean dan variasi jenis sarapan pagi khas Jerman. Biasanya dengan Roti keras khas, Musli atau sejenis sereal, minumnya ada Teh atau Kopi dan Jus , kemudian buah buahan nya juga. Menariknya Jerman banyak menyediakan Buah Kiwi, Pisang dan Apel. Mula mulanya tidak biasa untuk jenis sarapan ini karena kurang cocok di lidah , terutama kami orang indonesia. Apalagi saya dan Fuad sebagai orang Sunda asli yang notabene lebih ke Lalaban dan Nasi . heeh. Tapi lama kelamaan kami terbiasa dengan sarapan ini, bahkan ada juga yang membawa bekal untuk Kursus nanti

Setiap hari Senin sampai Jumat kami masuk Kursus di Goethe Institut Freiburg, Biasanya dari penginapan kami berangkat pukul 08:00 dengan 2 buah Bis. Goethe Isntitut memiliki kelas dengan bervariasi  tingkatan dan memiliki guru din tiap kelasnya , level A1 Ondra, A2 Ivana dan Silke, B1 Regina, B2 Stefan. Tahap awal kami harus mengikuti Einstufungtest atau tes penempatan kelas, Saya dan Fuad masuk level A2 namun berbeda guru.

Pembelajaran dimulai dari jam 09:00 sampai 11:00, kemudian istirahat sebentar 15 menit dan dilanjut sampai pukul 13:00. Di dalam ruangan kelas semua peserta dituntut untuk berkomunikasi dengan Bahasa Jerman, Guru yang menyampaikan materi pun berbahasa Jerman. Meskipun demikian kami tetap bisa mengikutinya karena saling membantu satu sama lain. Pembelajaran layaknya sekolah di jerman menarik, sering diawali dengan kabar dan olahraga ringan dalam kelas, selingan musik dan tampilan gambar serta berbagai variasi menarik lainnya. Sehingga tidak merasa bosan atau malas, yang ada semangat belajarnnya menjadi. Setelah pembelajaran usai, kami pergi makan siang ke Mensa semacam tempat makan murah bagi kalangan Pelajar dan Mahasiswa. Letaknya masih dekat dari Goethe Institut dan hanya membutuhkan 10 menit jalan kaki menuju sana.

Dilanjut pukul 14:00 sampai pukul 16:00 kami diharuskan masuk kelas Projekt atau serupa dengan Ekstrakulikuler, ada 5 pilihan, diantaranya Kurszeitung/ kursus koran, bagaiman membuat artikel dalam koran, Hörspiel/ pelatihan pembuatan ragam suara untuk audio dalam Film dan sebagainya, Quiz / berlatih cara membuat dan memandu acara Kuis, Internet/ bagaimana kita berselancar di dunia maya, membuat blog, dsb dan terakhir ada Radio/kita diajarkan bagaimana cara bersiaran terutama khas siaran Jerman. Saya kebetulan senang dengan bicara dan tampil, jadi memilih Radio projekt, kalau Fuad masuk Hörspiel. Pengajar Projekt ini masih Guru Guru Kelas Bahasa Jerman kami.

Selepas dari Projekt kami harus pulang ke tempat penginapan Jugendherberge, tapi terkadang ada juga yang menyempatkan main ke pusat kota , menuju penginapan biasanya kami rombongan atau sendiri sendiri bagi yang sudah hapal jalan, biasanya pakai Tram/ semacam kereta monorel masuk jalan raya.

Kami harus berada di penginapan kurang lebih pukul 18:00 paling telat karena harus sudah disiapkan jadwal untuk makan malam dan aktifitas lainnya di dalam ruangan. Pukul 20:00 Kami diharuskan mengikuti kegiatan dalam ruangan, nah disinilah peran pembimbing kami terjun lapangan. Biasanya kami Basteln, malen/ menggambar, Film anschauen/melihat Film dan membuat kreasi kreasi seni lainnya. Selepas itu kami bebas melakukan apa saja, entah itu diskusi, main bersama peserta lain ,masuk kamar dan mencicipi makanan ringan ditemani ngobrol sana sini, ataupun olahraga malam .Yang pasti pukul 22:00 kami harus berada di kamar masing masing dan lepas tidur. Tidak ada kegaduhan lagi yang terdengar.

Sebagai tambahan , Setiap Sabtu Minggu kami libur, biasanya kami di Penginapan bermain atau ke pusat kota jalan jalan . dan setiap hari kamis kami dijadwalkan untuk bebas kelas, mengikuti Ausflug atau wisata ke luar kota Freiburg, kota yang pernah kami singgahi diantaranya masih kawasan Baden Württemberg yaitu ke kota Baden Baden, Karlsruhe, dan Kota Kecil perbatasan Jerman Prancis, Colmar. Kunjungan yang teramat Indah bagi kami.

Masuk minggu terakhir, kami disibukkan dengan latihan Ujian karena memang tujuan Kursus Bahasa ini pada akhirnya menuntut kami untuk mengikuti Ujian Tingkatan Bahasa. Saya dan Fuad mengikuti tes level A2,karena meskipun di Indonesia belum mendapatklan sertifikat A1. Istilahnya loncat satu level, kami ingin membanggakan Guru kami sekalipun kemampuan bahasa kami masih jauh. Semua peserta mengikuti Ujian dengan lepas dan semangat serta antusias. Mereka pastinya ingin memberika yang terbaik, baik bagi dirinya maupun nama baik Negara serta sekolahnya.

Selepas Ujian selesai, hari selanjutnya diisi dengan Penampilan Kebudayaan Tiap Tiap Negara. Namanya Kultur Abend/ malam budaya.  Kami Indonesian Team menampilkan presentasi power point dengan tema budaya dan karya Indonesia, bazar Kerajinan Tangan daerah, dan Menyanyi Lagu Kebangsaan Indonesia. Peserta dari berbagai negara lain pun ikut serta memeriahkan. Brazil dengan identik Panorama alam dan Sepak Bolanya, Paraguay dengan Kota Sejarah dan Semangat kemasyarakatannya, Uruguay dengan suguhan alam indahnya, Rusia Neuseeland dan Bolivia dengan Tarian khas negaranya dan Argentina dengan Khas Sepak Bola dan panorama alamnya. Semua peserta menyuguhkan kreasi seni yang teramat apik dipadu presentasi dan promosi negaranya masing masing. Begitu Indah dan berkesan.

Malam terakhir menjadi saksi perpisahan kita, Pengumuman hasil Ujian pun dibagikan, Alhamdulillah semua peserta Lulus dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Sebagai peserta terbaik ternyata dari indonesia dengan gut di level B2. Saya dan Fuad sendiri sesuai yang diharapkan lulus, meskipun Fuad lebih bagus hehe. Setelah meraih keberhasilan selama kursus 3 Minggu kami akhiri dengan pesta kecil kecilan, foto bersama dan kesan pesan sesama peserta kursus, guru guru, pembimbing, dan pastinya koki koki penginapan.Ditutup dengan penutupan Kursus Bahasa Musim Dingin Januari 2012

Esok harinya, ternyata kepergian kita tidak bersamaan karena jadwal penerbangan tiap negara berbeda beda. Saat itu Bolivia, Neuseeland, Rusia sudah duluan berpisah menuju bandara untungnya kami masih menyempatkan pagi buta untuk bertemu dan salam pisah dengan mereka. Negara Lain Argentina, Brazil, Uruguay,Paraguay dan Indonesia belakangan dan sore hari tepatnya menuju Bandara Frankfurt am Main. Selepas perpisahan dengan Penginapan Jugendherberge, Kota Indah Freiburg, Goethe Institut pastinya Salju Eropa, pukul 21:00 kami melepas kepergian pulang ke Tanah Air. Selama perjalanan pulang di pesawat kami habiskan dengan perpisahan kami juga sebagai Indonesian Team, dan selepas mendarat setelah kurang lebih 15Jam Jerman-Indonesia kami disambut oleh perwakilan Goethe Institut Jakarta dan keluarga kami tercinta. Meskipun detik detik perpisahan terakhir kalinya kami rasakan kembali, sorak sorai, tangis haru.

Pengalaman ini begitu Indah dan berharga kami dapatkan, Alhamdulillah Allah memberikan jalan kesempatannya kepada kami , berkat kuasa dan takdir.Nya lah, dan tidak terlepas pula kerja keras, usaha dan tekad guru kami ibu Etty Sugyarti , Ibu Ria Safitri, dalam mendidik dan memperjuangkan kami agar bisa meraih Beasiswa ini, Pemerintah Jerman dengan program PASCH dan kerja sama Goethe Isntitut nya untuk memberikan Beasiswa dan kegiatan PASCH lainnya yang bermanfaat, terutama orang tua kami yang selalu senantiasa mendorong doa dan dukungan moril. Semoga amal bakti dan kerja keras kalian senantiasa diberikan balasan yang setimpal dan mendapat tempat mulia disisi-Nya.Amin

kebanggaan bagi kami terutama saya sebagai seorang anak KAMPUNG bisa menlintas belahan Dunia Eropa saja yang hanya sebatas mimpi tidak pernah terbayangkan sebelumnya untuk menaiki pesawat dan melihat, memegang Salju saja pun sudah luar biasa bahkan ini menginjakkan kaki untuk pertama kalinya bukan di negeri sendiri melainkan langsung ke Negeri Maju dan Modern dengan Kecanggihannya JERMAN

Fuad Fakhrudin Zulfa und Imam Rahmansyah

XI.Bahasa SMA N 3 Tasikmalaya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: